<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/2977630556112273889?origin\x3dhttp://infosinema-indonesia.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Selasa, 17 November 2015

Puncak Hari Toleransi Sedunia Dirayakan Lewat Festival Film di Jakarta

Puncak Hari Toleransi Sedunia Dirayakan Lewat Festival Film di Jakarta
InfoSinema Jakarta, 16 November 2015 - International Film Festival for Spirituality, Religion, and Visionary (IFFSRV) kembali digelar. Pada tahun ke-3, festival yang mengangkat tema toleransi, religi, spiritual, dan visioner ini menyelenggarakan Malam Penganugerahan dan Perayaan Hari Toleransi Sedunia yang jatuh pada hari ini, 16 November 2015, di Auditorium Utama RRI, Jakarta.

Acara ini dipadati para sineas internasional pemenang yang terbang langsung dari negara mereka masing-masing, artis-artis ibukota, pejabat, dan simpatisan masyarakat.

350 film dari seluruh dunia ikut dalam penyeleksian sejak pendaftaran festival ini dibuka. Damien Dematra, founder dan director IFFSRV, mengatakan banyaknya film bertema toleransi yang ikut serta tahun ini menunjukkan masih banyaknya insan perfilman yang peduli dengan toleransi global dan menyalurkannya lewat bidang kreatif. Ia juga berharap festival ini dapat mempererat toleransi antar umat beragama dan turut serta menciptakan lingkungan dunia yang lebih damai.

Dalam acara Peringatan Hari Toleransi Sedunia ini juga diluncurkan album Cinta Untuk Semua oleh Natasha Dematra. Album yang lagu-lagunya banyak mengangkat tema toleransi ini merupakan bagian perjuangan dan idealisme sang penyanyi muda untuk membuat dunia yang lebih baik dan toleran. Berbeda itu indah dan harus dihargai, ujarnya tegas. Ia berharap album barunya ini dapat menginspirasi para pendengarnya untuk makin bersikap toleran dan menerima perbedaan di tengah masyarakat yang majemuk.

Pada akhir acara Malam Penganugerahan ini diumumkan Film Terbaik IFFSRV yaitu Pilgrimage yang merupakan film besutan sutradara Mariel McEwan yang juga penerima Producting Fellow dari institusi bergengsi, American Film Institute. Pilgrimage adalah sebuah karya piawai yang indah dan unik, yang menggabungkan tarian dan unsur spiritual tentang keseimbangan. Para penonton diajak untuk menikmati dan turut hanyut dalam kelembutan tarian yang dikontraskan dengan megahnya alam Sawtooth Botanical Garden yang indah dan eksotik. Menurut Damien Dematra, terpilihnya film ini sekaligus menjadi cerminan bahwa toleransi dapat terwujud apabila semuanya seimbang. Keseimbangan dan penerimaan diri dan lingkungan merupakan pangkal kehidupan yang penuh toleransi. Mayoritas bukan penggilas dan kebalikannya, minoritas tidak perlu merasa tertindas.

IFFSRV bekerja sama dengan partner-partner festival internasional lainnya, yaitu Filmmakers of The Year Film Festival (FOTY), International Film Festival for Documentary, Short and Comedy (IFFDSC) dan International Performing Arts & Movie Awards (IPAMA). Malam Penganugerahan 16 November ini dibuka oleh Penasehat Dewan Kreatif Rakyat (DKR), Lily Wahid dan Direktur Utama Radio Republik Indonesia (RRI) Dra. R. Niken Widiastuti, M.Si, dan diselenggarakan atas kerjasama Dewan Kreatif Rakyat (DKR), iHebat International Volunteers, Universitas Indonesia, Yayasan Peduli Anak Indonesia (PENA), World Film Council, dan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai media partner sekaligus penyelenggara. Film-film pemenang IFFSRV dan festival partner lainnya akan diputar di RRI, di beberapa SMA Negeri di Jakarta dan Bekasi, Universitas Indonesia, dan beberapa tempat lainnya dari tanggal 16 November sampai dengan 1 Desember 2015. Juga akan diadakan diskusi film dan transfer ilmu oleh para sineas senior kepada generasi muda Indonesia.

Malam Perayaan Hari Toleransi kemudian ditutup dengan doa bersama Pray for Paris dan sebuah deklarasi untuk toleransi. Kedua hal ini dipicu kejadian penembakan dan peledakan brutal yang sangat memilukan di Kota Paris, Perancis, yang telah merenggut lebih dari seratus jiwa dan mencabik arti toleransi. Pray For Paris adalah doa bagi kesembuhan para korban dan keselamatan bagi sesama yang berada di Paris dan di seluruh muka bumi dari serangan dan perbuatan intoleran lainnya. Acara ini diharapkan bisa menyentuh kesadaran masyarakat, membuka mata dunia untuk lebih menghargai perbedaan, dan memberi harapan agar tidak ada lagi kekerasan dan pembunuhan atas dasar intoleran, apalagi mengatasnamakan Tuhan.

Deklarasi Internasional Untuk Toleransi yang melanjutkan Pray for Paris dikumandangkan para korban intoleransi dan masyarakat internasional yang peduli toleransi, yang berbunyi:

  1. Toleransi merupakan landasan kehidupan bersama untuk menciptakan perdamaian, dan merupakan hal yang mutlak untuk menciptakan kerukunan dalam perbedaan.
  2. Peristiwa mengenaskan yang terjadi di Paris, Bangkok, Tolikara Papua, Singkil Aceh dan berbagai tempat di muka bumi ini merupakan peringatan berdarah bahwa intoleransi dapat terjadi di mana pun. 
  3. Setiap individu memiliki hak asasi untuk hidup tanpa penghakiman, sekalipun berbeda suku, ras, agama, kebudayaan, dan lain-lainnya.
  4. Intoleransi merupakan pangkal berbagai kejadian memilukan berdarah dan musuh kita bersama. Toleransi merupakan sahabat yang mempersatukan segala bangsa.
  5. Bhinneka Tunggal Ika adalah budaya bangsa sejak jaman nenek moyang yang merangkum prinsip dasar toleransi. Mari kita saling menghargai sesama dan menjatidirikan kita sebagai bangsa yang beradab dan menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika; walapun berbeda-beda, namun tetap satu.
  6. Dunia tanpa toleransi merupakan dunia yang tertinggal. Dunia dengan toleransi menjanjikan masa depan cerah. Dengan ini kami menyerukan pada seluruh bangsa, bahwa sekalipun berbeda bangsa, suku, agama, ras, adat-istiadat, budaya, atau lainnya, toleransi adalah mutlak dan dasar untuk menciptakan dunia yang damai dan aman.
  7. Memohon pada semua pihak untuk menahan diri dari perbuatan intoleransi karena perbedaan merupakan anugerah Yang Maha Esa.

Label: , , , , , , , , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda